Ideologi-ideologi yang
dikemukakan oleh O’Neil dalam bukunya tentang “Ideologi-Ideologi Pendidikan”
dapat ditarik layaknya sebuah pembaharuan pemikiran. Misalnya ideologi
konservatif dapat direntang dari konservatif yang sangat konservatif hingga
konservatif yang kurang konservatif dengan pemikiran tokohnya masing-masing.
Sepertinya ini menunjukkan paham pendidikan yang terus berubah dari paham yang
terikat oleh lembaga-lembaga pemerintah hingga pada kebebasan individu dalam
menentukan sendiri apa yang ia ingin pelajari. Berkembang lebih jauh nampaknya
mulai terlihat bahwa pemikiran konservatif dimana pendidikan diatur oleh
pemerintah digabungkan dengan pemikiran bahwa pendidikan adalah kebebasan
individu oleh kaum liberal hingga anarkisme. Hal memberikan pemikiran baru
bahwa kebebasan perlu suatu pengaturan, maka lembaga pemerintah yang memegang
aturan harus menjunjung tinggi kebebasan hak asasi manusia, yang dimana
pemikiran ini lebih banyak tertuang pada paham demokrasi pendidikan. Berikut
dijelaskan beberapa ideologi pendidikan mengacu pada tulisan Prof. Marsigit
yang berjudul “Phylosopycal and Theoritical Ground of Mathematics Education”.RADIKAL
Kata
radikal berasal dari bahasa Yunani, Radix
yang berarti akar. Kata radikal sendiri memiliki banyak arti. Dalam dunia
politik radikal sering dihubungkan dengan sebuah perlawanan untuk menggantikan
secara total (sampai ke akar-akarnya) suatu ideologi yang dianggap tidak lagi
berguna dalam mengolah kehidupan sosial. Kata radikal sangat berkaitan dengan
fundamental. Ideologi radikal sering dikenal sebagai ideologi anarkisme. Hal
ini sejalan dengan sejarah pada abad ke-18 dimana para penganut paham radikal
yang saat itu juga penganut paham sosialisme dan anarkisme (libertarian)
melawan ide konservatif dan liberal.
Paham
anarkisme atau radikal dalam pendidikan yaitu menghapus/pemusnahan/pelenyapan
seluruh kekangan lembaga atas kebebasan Manusia (Soeharto, 2010). Hal ini
dimaksudkan agar manusia yang bebas tak terbataskan oleh keberadaan lembaga atau
pemerintah dalam mencapai pengetahuan. Paham anarkisme memandang bahwa pendidikan
merupakan sebuah proses yang terus ada untuk belajar melalu pengalaman sosial
alamiah oleh manusia itu sendiri (O’Neil, 2001). Hal ini berakibat pada tidak
setujunya kaum anarkisme terhadap adanya persekolahan. Sekolah dipandang
sebagai lembaga pemerintahan dan akan bersifat otoriter dan mengacaukan
kebebasan belajar manusia itu sendiri. Paham anarkisme juga menganggap bahwa
pendidik harus bebas dari pengaruh pemerintahan (Hicks dalam Ward, 2004).
Ideologi
radikal juga menganggap bahwa keadaan otoriter pemerintah yang mengatur proses
belajar mengakibatkan dehumanisasi. Dehumanisasi merupakan keadaan dimana siswa
keberadaannya kurang dari manusia atau tidak lagi sebagai manusia (Freire, dkk,
2006). Ideologi radikal menjadikan siswa ataupun anak kecil sebagai insan yang
bebas layaknya orang dewasa untuk menentukan apa yang ingin ia pelajari (Hicks,
2004).
O’Neil (2001) dalam bukunya
menuliskan tokoh-tokoh penganut ideologi radikal dalam pendidikan yaitu Ivan
Illich, E. Reimer, Paul Goodman, John Holt dan M. Gandhi. Selain yang
disampaikan O’Neil, terdapat juga tokoh radikal pendidikan yaitu Paulo Freire.
Ivan Illich menuliskan ide-idenya melalui karya bukunya yang berjudul Celebrating of Awareness: A Call for
Institutional Awarness [197]; Deschooling
Society [1971]; Tools for
Conviviality [1973]; Energy and
Equity [1973]; Medical Nenesis
[1973]. Selain tokoh-tokoh yang diutarakan, tokoh lainnya adalah Neill, Postman
dan Weingartner (Lichtainsten, 1985).
KONSERVATIF
Berbeda dengan ideologi radikal,
ideologi konservatif lebih setuju dengan adanya lembaga pendidikan dalam
pengaturan belajar manusia. O’Neill (2001) Mengungkapkan bahwa ideologi
konservatif mendukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses
budaya yang sudah teruji oleh waktu, didampingi dengan rasa hormat mendalam
terhadap hukum dan tatanan sebagai landasan perubahan sosial yang konsturktif.
Kaum konservatif menganggap bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan
penerusan struktur dan sistem sosial serta pola-pola serta tradisi-tradisi yang
sudah mapan (Soeharto, 2010). Ada dua ungkapan dasar dalam ideologi konservatif
dalam pendidikan yaitu (O’Neil, 2001); (1) konservatif pendidikan religious, yang
menekankan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan
karakter moral yang tepat. (2) Konservatif pendidikan sekular, yang memusatkan
perhatiannya pada perlunya melestarikan dan meneruskan keyakinan-keyakinan dan
praktik-praktik yang sudah ada, sebagai cara untuk menjamin pertahanan hidup
secara sosial serta efektivitas secara kuat oleh orientasi pendidikan yang
bersifat lebih Alkitabiah dan Evangelis (mendakwahkan agama), yang secara
teologis jelas-jelas kurang liberal jika dibandingkan dengan berbagai aliran
utama (Kristen) Protestan, misalnya Persukutan Baptis Wilayah Selatan dan
Gereja Lutheran.
Konservatif
sebagai ideologi pendidikan adalah paham konservatif yang kedudukannya paling
tidak konservatif. Tokoh-tokoh dalam ideologi konservatif pendidikan terbagi
menjadi dua bagian yaitu (O’Neil, 2001), konservatif religious yang
tokoh-tokohnya adalah, Billy Graham, St. Agustinus dari Hippo, Reinhold
Niebuhr, John Duns Scotus, Soren Kierkegaard, para tokoh Lutheranisme, tokoh
Presbyterianisme, tokoh Kalvinisme. Yang kedua adalah tokoh konservatif
sekuler, tokoh-tokohnya adalah Edmund Burke, Russle Kirk, William Buckley, Adam
Smith, Thomas Malthus, David Ricardo, Milton Friedman, Ayn Rand, Hans
Morgenthau, Thomas Hobbes, Thomas Harrington, John Adams, James Madison, John
C. Calhoun, Herbert Spencer, William Graham Sumner, Lester Ward, Georg W.F.
Hegel, Auguste Comte, Emile Durkheim, Fichte, Scheling, Freidrich Nietzsche,
Hyman Rickover, James Koerner, dan Arthur Bestor.
LIBERAL
Ideologi pendidikan liberal
bertujuan untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan
cara mengajar setiap siswa bagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan
dalam kehidupan dirinya sendiri kelak secara efektif. Liberalisme dalam
pendidikan juga merupakan tradisi eksperimentalisme yang biasa dikaitkan dengan
John Dewey [1856-1957] (Freire, dkk, 2006). Kaum liberal mendahulukan individu
dibandingkan dengan tuntutan masyarakat. Kaum liberal cenderung mamandang sekolah
sebagai lembaga yang terbuka, lebih kritis, dan lebih bertanggung jawab
ketimbang sistem politik di mana lembaga pendidikan berada.
O’Neil (2001) dalam bukunya
menyatakan beberapa corak dari Liberalisme dalam dunia pendidikan, yaitu;
1. Liberalisme metodis
(yang sangat bersifat non-ideologis, karena ia memusatkan diri pada cara-cara
baru dan yang telah diperbaiki untuk melancarkan pencapaian sasaran-sasaran
pendidik yang ada sekaran) adalah mereka yang menggambil sikap bahwa selagi
metode-metode pengajaran harus disesuaikan dengan zaman supaya mencakup
renungan-renungan psikologis baru dalam hakekat belajar oleh manusia, namun
sasaran-sasaran pendidikan, termasuk isi tradisionalnya, secara fundamental
sudah baik dan tidak memerlukan penyusuaian. Tokoh dalam liberalisme metodis
yaitu Maria Montessori. Hal ini karena ia mengusulkan cara mengajar yang baru tapi pada dasarnya
tidak bersikap kritis terhadap tujuan maupun isi pendidikan yang ada sekarang. Tokoh
lain, namun masih banyak perdebatan terkait penggolongannya yaitu Edward Lee
Thorndike. Pada prinsipnya paham liberalisme metodis membawa metode-metode baru
dalam pengajaran yang disesuaikan dengan perkembangan zamannya. Tokoh-tokoh
lain yaitu, J. Herburt, J.B. Conant, dan Jerome Bruner,
2. Liberalisme direktif adalah kaum yang menginginkan
pembaharuan mendasar dalam hal tujuan sekaligus dalam hal cara kerja
sekolah-sekolah sebagaimana adanya sekarang. Mereka menganggap bahwa belajar
adalah perlu, dan memilih untuk mempertahankan beberapa keperluan mendasar tertentu,
serta mengajukan penetapan lebih dulu tentang isi pelajaran yang akan diberikan
pada siswa. Tokoh-tokoh liberalisme direktif adalah Jhon Locke, Benjamin
Franklin, H. Pestolozzi, F. Froebel, Francis W. Parker, John Dewey, w.h.
Kilpatrick, John Childs, Susan Isaacs, Celestin Friinet, G.I. Brown, Jean
Paget, Laurance Kohlberg, William Glasser, Carl Orff, dan Rudolf Steiner.
3. Liberalisme non-direktif adalah kaum yang berpandangan
bahwa siswa sendirilah yang menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Siswa
jugalah yang menetapkan kapan, di mana dan sejauh mana mereka ingin belajar.
Jadi, kaum liberalisme non-direktif sangat sepakat untuk menghapuskan sistem
dimana sekolah terlalu mendikte kebutuhan belajar siswa. Tokoh-tokoh kaum
liberalisme no-direktif adalah J.J. Rausseau, A.S. Neill, Carl Rogers, dan
George Leonard.
HUMANIS
Ideologi pendidikan humanis sering
juga disebut sebagai pendidikan berpusat pada diri seseorang. Pendidikan
humanis merupakan pendekatan yang notabenenya didasari pada psikolog humanis
yaitu Abraham Maslow dan Carl Rogers (Wikipedia). Carl Rogers dikenal sebagai
“Bapak Psikologi Humanistik” yang dimana berusaha untuk menerapkan hasil
penelitiannya dalam bidang psikologi dalam pengajaran berpusat pada diri
seseorang yang mencakup empati, kepedulian terhadap siswa, dan guru sebagai
fasilitator dalam pembelajaran. Rogers banyak menuangkan ide-idenya tentang
pendidikan humanis melalui karya bukunya yang berjudul “Freedom to learn” dan
menjadi “Learning to Feel – Feeling to Learn – Humanistic Education for the
Whole Man”.
Ideologi
humanis berpandangan bahwa sekolah mesti fokus pada praktik pendidikan yang
humanis dan melakukan pengaturan sekolah yang berbeda dengan sekolah
tradisional. Sekolah yang humanis terdiri dari dua lingkungan yaitu indoor dan
outdoor. Pengaturan dalam ruangan mestinya sudah berisi kursi, meja, rak buku,
sekolah memiliki dapur, dinding yang berwarna-warni, ruangan yang sejuk, nyaman
untuk membaca dengan rileks, dan lain sebagainya. Sementara lingkungan luar ruangan,
sekolah memiliki halaman yang nyaman untuk siswa seperti adanya rumah pohon,
tempat main, tempat olahraga, dan lain sebagainya.
Tokoh-tokoh pendidikan humanis
selain yang telah disebutkan di atas yaitu Abraham Maslow dan Carl Rogers, ada
juga Reggio Emillia, Maria Montessori, Rudolg Steiner, Harold C. Lyon, Jr.
PROGRESIF
Ideologi pendidikan progresif
dimulai pada pada abad ke 19. Penggunaan kata progresif didasarkan pada
perbedaan kurikulum pendidikan tradisional Eropa-Amerika pada abad ke 19.
Secara klasik kurikulum tradisional mempersiapkan siswa ke jenjang universitas
diturunkan melalui kelas sosial. Namun, pendidikan progresif memiliki kualitas
program berupa pembelajaran berdasarkan praktik melalui proyek, pembelajaran
ekspedisi, pembelajaran berdasarkan pengalam, pengintegrasian kurikulum
berfokus pada unit tematik, memasukan entrepreneurship dalam pandidikan,
berfokus pada pemecahan masalah dan berpikir kritis, bekerja dalam tim yang
membangun keterampilan sosial, pemahaman dan praktik menjadi tujuan
pembelajaran, dan lain sebagainya.
Pendidikan progresif dapat
ditelusuri kembali melalui karya-karya John Locke dan Jean-Jacques Rousseau,
yang keduanya dikenal sebagai pelopor gagasan yang akan dikembangkan oleh para
teoris seperti Dewey. Locke percaya bahwa kebenaran dan pengetahuan muncul dari
pengamatan dan pengalaman daripada manipulasi ide yang diterima atau diberikan.
Locke lebih lanjut membahas perlunya anak-anak memiliki pengalaman konkrit
untuk belajar.
Pendidikan progresif juga banyak disinggung
oleh sejarawah pendidikan terkemuka yatu R. Freeman Butts dalam bukunya “Public Education in the United States: From
Revolution to Reform” (O’Neil, 2001). Ideologi pendidikan progresif lebih
ditekankan pada pembangunan individu seperti yang telah dijelaskan di atas, dan
sedikit sekali menyinggung soal pembaharuan sosial. Demikian paham progresif
juga mulai terpecah menjadi dua kubu yaitu pendidikan progresif yang berpusat
pada siswa dan pendidikan progresif yang berpusat pada pembaharuan sosial.
Tokoh-tokoh
yang mendukung ideology pendidikan progresif adalah Johann Bernhard Basedow
[1724-1790], Christian Gotthilf Salzmann [1744-1811], Johann Heinrich
Pestalozzi [1746-1827], Friedrich Frobel [1782-1852], Johann Friedrich Herbart
[1776-1841], John Melchior Bosco [1815-1888], Cecil Reddie [1882-1932], John
Dewey, Helen Parkhurst [1886-1973], Rudolf Steiner [1869-1925], Maria
Montessori [1870-1952], dan Robert Baden-Powell.
DEMOKRASI
Pendidikan demokrasi adalah
cita-cita pendidikan di mana demokrasi adalah tujuan dan metode pengajaran. Ini
membawa nilai-nilai demokrasi untuk pendidikan dan dapat mencakup penentuan
nasib sendiri dalam komunitas yang setara, serta nilai-nilai seperti keadilan,
rasa hormat dan kepercayaan. Pendidikan demokratis sering secara khusu bersifat
emansipatif dengan suara siswa yang setara dengan guru.
Pendidikan demokrasi dimulai dengan
premis bahwa setiap orang itu unik, shingga masing-masing dari kita belajar
dengan cara yang berbeda. dengan mendukung pengembangan individu dari setiap
orang muda dalam komunitas yang peduli, pendidikan demokratis membantu orang
muda belajar tentang diri mereka sendiri, terlibat dengan dunia di sekitar
mereka, dan menjadi anggota masyarakat yang positif dan berkontribusi.
Ide pendidikan demokrasi bukanlah
ide baru. Selama 120 tahun terakhir, para pemikir terkemuka pendukung John
Dewey seperti Marian Wright Edelman dan pendukung Margaret Mead Paulo Freire
telah mengartikulasi hipotesis dasar bahwa, “jika hidup dalam masyarakat
demokratis yang berkomitmen pada hak asasi manusia menciptakan kesejahteraan,
dan jika orang belajar terutama berdasarkan orang dan lingkungan sekelilingnya,
dan jika budaya ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lain, kemudian
kita perlu menciptkan lingkungan di mana orang-orang dari segala usia, terutama
pemuda, tenggelam dalam nilai, praktik, dan keyakinan masyarakat demokratis dan
hak asasi manusia.”
Tokoh-tokoh penganut paham demokrasi
pendidikan yaitu Joseph Agassi, Titus Alexander, Michael Apple, Matthew Arnold,
Sreyashi Jhumki Basu, Pierre Bourdieu, George Dennison, John Dewey, Emile
Durkheim, Michel Foucault, Peter Gray, Daniel Greenberg, Amy Gutmann, Yaacov
Hecht, John Holt, Ivan Illich, Lawrence Kohlberg, Homer Lane, Deborah Meier,
A.S. Neill, Claus Offe, Karl Popper, dan Bertrand Russell.
SUMBER
BACAAN:
Anonim. Progressive Education. Tersedia
di laman: https://en.wikipedia.org/wiki/Progressive_education
Bennis, Benis. What is Democracy
Education?. Tersedia di laman: http://democraticeducation.org/index.php/features/what-is-democratic-education/
Freire, Paulo.,
Ivan Illich, dkk. 2006. Menggugat Pendidikan (Fundamentalis, Konservatif,
Leberal, Anarkis). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lichtenstein, Peter M., 1985. Radical
Liberalism and Radical Education: A Synthesis and Critical Evaluation of
Illich, Freire, and Dewey. The American
Journal of Economics and Sociology, Vol. 44, No. 1. Page 39-53.
O’Neil, William
F. 2001. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Soeharto, Karti. 2010. Perdebatan Ideologi
Pendidikan. Jurnal Cakrawala Pendidikan,(2).
Ward, S.
(2004). Education
Studies: A Student Guide.
RoutledgeFalmer
No comments:
Post a Comment