Wednesday, March 3, 2021

SEDIKIT TENTANG KESULITAN BELAJAR

 1.   Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana siswa tidak bisa belajar atau membangun pengetahuannya sebagaimana mestinya. Ada dua faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar. Yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri siswa sendiri yang bersifat kognitif (pengetahuan dan IQ), bersifat akfektif (emosi, motivasi, minat, dll) dan psikomotorik (panca indera). Sementara itu faktor eksternal berasal dari luar diri siswa seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah yang temasuk lingkungan belajar dalam kelas, dan pemilihan strategi pembelajaran oleh guru atau manajemen kelas.

Pada soal nomor satu, terdapat sebuah kasus berkaitan dengan materi perbandingan dan dikerjakan dalam kelompok. Dimana ditemukan bahwa hanya beberapa siswa yang mengerjakan soal tersebut sementara siswa lain terlihat pasif. Secara umum, saya bisa mendiagnosis kesulitan belajar dari semua faktor internal maupun eksternal siswa. Namun dalam khasus ini saya mengasumsikan bahwa dari faktor internal, dalam hal ini psikomotorik siswa dimana semua siswa diasumsikan memiliki kesehatan panca indera. Tidak ada satu siswapun yang mengalami gangguan panca inderanya. Selain itu, dari faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan masyarakat, keluarga dan lingkungan sekolah diasumsikan normal. Tidak ada masalah yang muncul dari masyarakat, lingkungan keluarga serta lingkungan sekolah yang menyebabkan siswa secara psikologis terganggu. Diagonisis kesulitan siswa berasal dari aspek kognitif, afektif, dan manajemen kelas.

a.      Aspek Kognitif

Aspek kognitif berkaitan dengan pengetahuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Untuk meninjau lebih jauh bagian mana dalam penyelesaian soal yang membutuhkan pengetahuan siswa, berikut diberikan proses pengerjaannya secara umum (dikatakan secara umum karena bisa saja ada sebagian orang yang menyelesaikannya dengan cara yang berbeda).

Soal:

Dua orang tukang cat bernama Amin dan Budi mengerjakan sebuah proyek pengecatan rumah bersama-sama. Apabila proyek itu dikerjakan sendiri, Amin dapat menyelesaikan dalam waktu delapan hari, sementara Budi dalam waktu lima setengah hari. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut bersama-sama.

Jawaban:

·       Memahami soal

·       Pemodelan matematis

·       Menyelesaikan masalah

Dalam memecahkan masalah di atas, paling tidak siswa membutuhkan tiga tahap penyelesaian yaitu memahami masalah, memodelkan masalah, dan menyelesaikan masalah.  Jika siswa tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan yaitu menyelesaikan masalah di atas, bisa kita duga bahwa siswa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami masalah di atas. Jika tidak mampu memahami masalah tersebut, tentu siswa tidak bisa membuat model matematikanya dan menyelesaikannya. Pengetahuan awal siswa dalam memahami soal sangat krusial. Jika siswa tidak memiliki pengetahuan tersebut, tentu penyelesaian masalah yang diberikan tidak mampu dikerjakan.

Untuk mengatasi masalah seperti ini, guru perlu membiasakan siswa menyelesaikan soal certa. Awalnya dengan memberikan siswa contoh masalah dan penyelesaiannya dan kemudian diberikan latihan yang sering. Dengan banyak berlatih, siswa akan memiliki sensitivitas penyelesaian masalah-masalah matematika untuk materi yang sudah pernah ia pelajari.

b.      Aspek Afektif

Aspek afektif merujuk pada sikap dan emosi siswa yang menjadi respon terhadap apa yang diberikan guru. Jika ditemukan bahwa siswa mayoritasnya tidak mengerjakan tugas peneyelesaian masalah yang diberikan, tentu hal ini merupakan sikap negatif. Bisa jadi siswa tidak suka dengan guru ataupun pelajaran yang disajikan. Mungkin siswa punya masalah dengan guru yang mengakibatkan ia tak suka saat guru mengajar. Tentu hal ini harus diantisipasi oleh guru. Guru harus bisa memberikan sikap positif terhadap siswa agar siswa memberi perhatian dalam pembelajarannya.

Selain sikap, pengaruh lain yaitu motivasi dan minat. Motivasi merupakan keadaan internal manusia yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Siswa dengan motivasi belajar matematika rendah, akan sulit diajak belajar apalagi memintanya untuk membangun pengetahuannya sendiri. Sementara itu, minat bisa diartikan secara sederhana yaitu kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. siswa yang memiliki pandangan negatif terhadap matematika atau guru yang mengajar, tentu tidak memiliki minat yang kuat untuk belajar matematika. Tiga hal yang dibahas berkaitan dengan afektif, seringkali terbentuk oleh pemikiran-pemikiran siswa itu sendiri. Misalnya, merasa matematika adalah pelajaran yang sulit, gurunya galak, dan lain sebagainya. Ini menjadi tugas dari guru bagaimana menyajikan pembelajaran matematika yang menyenangkan bagi siswa. Hal ini akan mendorong siswa untuk belajar meski memang matematika itu sulit.

c.       Penggunaan strategi dan manajemen kelas

Penggunaan strategi dan manajemen kelas bisa memengaruhi kesulitan belajar siswa. Misalnya, ketika guru mengetahui bahwa siswa pada kelas tersebut mayoritas memiliki kemampuan awal yang kurang lalu menggunakan pembelajaran kooperatif, tentu saja sulit berlangsung diskusi pemecahan masalah. Ketika siswa mentok tidak menemukan jawaban, mereka cenderung bercerita. Mungikin ada satu dua orang saja yang mau mencoba terus untuk mencari pemecahan masalah.

Hal lain juga dibutuhkan oleh guru adalah pemberian petunjuk (hint). Guru perlu menyadari bahwa soal cerita pada umumnya asing bagi siswa. Ini perlu diberikan petunjuk apa yang harus ditemukan, bagaimana langkah awalnya, dan lain-lain yang diperlukan. Guru yang hanya memberikan masalah tanpa memandu siswa, bisa saja tidak sukses dalam pembelajarannya dan mungkin ini terjadi di kelas sesuai nomor satu. Meskipun demikian ada kondisi kelas yang tanpa diberikan petunjuk, siswanya bisa menyelesaikan masalah dengan baik.

 

2.       Lupa dalam belajar dapat diartikan sebagai ketidakmampuan siswa untuk mengenal atau mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Secara lebih spesifik dapat kita katakan juga bahwa lupa dalam belajar adalah ketidakmampuan siswa mengakses pengetahuan yang tersimpan pada long term memory. Ketidakmampuan mengakses juga bisa berarti pengetahuan tidak tersimpan baik dalam long term memory, jadinya siswa tak mampu mengakses pengetahuan secara utuh. Lalu pertanyaan selanjutnya, apa yang menyebabkan siswa lupa? Kebanyakan orang mengaitkan lupa dengan tenggang waktu yang lama. Artinya bahwa lupa diakibatkan karena pengetahuan tersimpan terlalu lama dan tak pernah diakses, dan pada saat dibutuhkan pengetahuan itu sulit diakses. Anggapan ini bukan satu-satunya penyebab lupa. Dalam beberapa penelitian, bahkan anggapan ini nyaris tak terbukti. Berikut faktor-faktor penyebab lupa.

a.      Lupa bisa diakibatkan oleh gangguan konflik antara item-item informasi atau mare yang ada dalam sistem memori siswa. Berdasarkan interference theory (teori gangguan) yang dipaparkan oleh Reber (1988), Best (1989) dan Anderson (1990), gangguan konflik terbagi dalam dua macam yaitu; (1) proactive interference; (2) retroactive interference.

Siswa mengalami gangguan proaktif apabila materi pelajaran yang sebelumnya sudah tersimpan dalam memori justru mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Peristiwa ini terjadi ketika siswa mempelajari dua materi yang sangat mirip dalam rentang waktu yang singkat. Hal ini mengakibatkan materi yang baru dipelajari akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali.

Siswa mengalami gangguan retroaktif ketika materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dahulu tersimpan memori. Pelajaran yang lama dipelajari atau disimpan dalam memori akan sulit diproduksi kembali oleh siswa.

b.      Lupa dapat terjadi karena adanya tekanan pada pengetahuan yang sudah ada, baik sengaja ataupun tidak sengaja. Tekanan ini dapat terjadi akibat materi yang diterima tidak berkesan, pengetahuan baru menekan pengetahuan lama yang sudah tersimpan terebih dahulu (fenomena retroaktif), dan pengetahuan tertekan ke alam bawah sadar siswa.

c.       Lupa bisa diakibatkan oleh perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali. Jika siswa hanya belajar Gajah dan Harimau di sekolah dengan melihat gambar, maka kemungkinan siswa akan lupa menyebutkan nama Gajah dan Harimau saat bertemu di kebun binatang.

d.      Lupa terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap apa yang ia pelajari. Jadi, meskipun siswa telah mempelajari materi dengan baik dan menyimpannya dalam memori, namun saat terjadi perubahan sikap dan minat siswa kepada hal lain atau materi lain, siswa cenderung melupakan apa yang sudah ia pelajari sebelumnya.

e.      Menurut Law of Disuse yang diutarakan Hilgard & Bower tahun 1975, lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang pernah dikuasai tidak pernah digunakan dalam waktu yang lama. Dengan sendirinya pengetahuan ini masuk ke alam bawah sadar siswa.

Meskipun cukup banyak jenis lupa, namun pada prinsipnya lupa bukanlah kehilangan atau terhapusnya pengetahuan dari memori siswa, namu tersimpan dan tertumpuk hingga sulit diakses atau diproduksi kembali. Hal ini dibuktikan dengan diberikannya program remedial bagi siswa dan kemudian siswa dapat menunjukkan performa akademik yang baik.

Lebih khusus, bagaimana saya melihat siswa dapat lupa dengan sifat distributif dalam mempelajari materi pemfakoran kuadrat? Sebelumnya kita kita lihat dulu bentuk dari persamaan kuadrat yang berhubungan dengan sifat distributif.

Sifat distributif pada bentuk (1) biasanya diajarkan terlebih dahulu lalu kemudian sifat distributif seperti pada bentuk (2). Kedua bentuk sifat distributif ini diajarkan dalam kurun waktu yang berdekatan bahkan mungkin dalam satu pertemuan. Kedua sifat ini mirip namun pengoprasiannya berbeda. Bentuk (1) langsung dikalikan masuk satu-persatu, namun untuk bentuk (2) cukup membingungkan untuk siswa. Yang mana yang harus dikalikan masuk? Bagaimana oprasinya? Urutannya seperti apa?. Nah, dalam kondisi ini bisa terjadi yang namanya proactive interference. Dimana sifat distributif bentuk (1) dan bentuk (2) dipelajari dalam waktu berdekatan. Bentuk (1) dalam memori siswa diganggu oleh datangnya pengetahuan baru berupa bentuk (2). Terjadilah gangguan konflik item pada memori siswa. Ini berakibat pada tidak tersimpan secara teratur pengetahuan berupa kedua bentu distributif tersebut. Akhirnya, dalam mempelajari pemfaktoran kuadrat, siswa sulit sekali mengakses pengetahuan tersebut dari memorinya.

Hal lain juga bisa diakibatkan oleh perubahan minat dan sikap siswa. Saat siswa lebih suka belajar ilmu pengetahuan alam, sifat distributif yang dibutuhkan dalam mempelajari pemfaktoran kuadrat, justru tertekan dalam memori dan sulit diakses kembali.

Untuk masalah waktu akses, bagi saya tidak terlalu signifikan sebagai faktor lupa dalam masalah ini. Karena sepengetahuan saya, materi ini dipelajari di kelas VII SMP dan rentang waktu tersimpannya pengetahuan tentang sifat distributif tidak terlalu lama dalam memori siswa. Beberapa siswa mungkin memberikan pengaruh, namun yang paling krusial dalam hemat analisis saya yaitu terjadinya perubahan minat dan proactive interference.

 

3.      Belajar adalah kegiatan membangun schema (pengetahuan). Piaget mengemukakan bahwa anak membangun schema/schemata (pengetahuan) dari proses asimilasi dan akomodasi. Menyusun pengetahuan baru atau menyusun ulang (penyesuaian) pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru. Asimilasi menurut Piaget adalah proses penyatuan atau pengintegrasian realita eksternal dengan struktur kognitif yang sudah ada. Akomodasi adalah proses mengubah struktur-struktur internal untuk memberikan konsistensi dengan realitas eksternal.

Asimilasi terjadi ketika informasi baru yang diterima serupa tetapi tidak identik dengan pengetahuan yang ada dalam memori, diintegrasikan atau dimasukan ke schema yang ada. Sementara akomodasi terjadi ketika perubahan dalam schema yang ada dibuat agar sesuai dengan informasi baru. Sementara itu, ada proses yang disebut automatisasi. Otomatisasi terjadi ketika siswa mampu mengakses schema yang ia miliki tanpa usaha yang lebih (mengingat terlalu keras).

Contoh dalam pembelajaran misalnya ingin mengajarkan eksponensial. Pada awalnya siswa sudah memiliki pemahaman atau schema bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang. Perkalian tidak hanya 2x3, 3x4, dan lain-lain. Tetapi ada juga 2x2x2x2 atau bentuk 3x3x3x3 dan lain sebagainya. Hal ini ada kemiripan dimana jika 3x4= 4+4+4 dimana terjadi pengulangan penjumlahan 4 sebanyak 3 kali. Siswa akan melakukan proses asimilasi bahwa tidak hanya ada perkalian yang artinya penjumlahan berulang namun, ada juga bentuk 3x3x3x3 atau perkalian berulang. Selanjutnya, siswa belajar bahwa bentuk 3x3x3x3 adalah bentuk . Terjadilah proses akomodasi pada pengetahuan siswa. Bahwa siswa mengubah struktur schema-nya dimana 3x4=4+4+4 dan =3x3x3x3.

Proses automatisasi terjadi ketika siswa dengan lancar mengakses pengetahuannya tentang bagaimana mengerjakan 3x4 adalah berbeda dengan mengerjakan . Siswa menyimpan pengetahuan eksponensial dengan baik dalam long term memory dan saat dibutuhkan dalam memahami materi lain atau mengerjakan permasalahan baru, siswa dengan mudah mengakses pengetahuan tersebut dalam memory-nya.

 

4.      Self-belief dalam belajar adalah keyakinan siswa atas kemampuannya mengerjakan tugas. Ada 4 jenis Self-belief yaitu self-concept, anxiety, self-efficacy dan self-confidence.

Self-concept merupakan gambaran atau persepsi dan perasaan seseorang mengenai dirinya sendiri. Anxiety merupakan perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Anxiety dalam belajar tidak kita harapkan, hal ini bisa menurunkan performa siswa dalam belajar. Sementara itu, self-efficacy merupakan keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Self-efficacy berbeda dengan belief. Belief lebih cenderung pada keyakinan yang tidak jelas dan bersifat semboyan. Sebaliknya, self-efficacy lebih spesifik bahwa seseorang meyakini kemampuannya untuk melakukan sesuatu karena ia paham tentang tugasnya, kemampuannya, dan semua faktor yang terlibat dalam tujuan yang ingin dicapai. Selanjutnya, self-confidence mirip dengan self-efficacy. Namun, self-confidence merupakan keyakinan seseorang yang dibangun oleh pengalamannya.

Dalam beberapa penelitian, cakupan dari Self-belief sangat memberikan pengaruh pada performa belajar siswa. Self-belief dipengaruhi siswa itu sendiri yaitu bagaimana ia membangun keyakinan terhadap dirinya. Sementara itu, pengaruh lain berasal dari lingkungan siswa yang mencakup keberadaan guru, orang tua, dan kepala sekolah. Bagaimana meningkatkan self-belief sama halnya dengan kita bertanya bagaimana memotivasi siswa. Ketika siswa termotivasi untuk belajar, maka dengan sendirinya self-belief siswa akan meningkat dan berdampak pada performa dan hasil belajarnya. Memberikan motivasi adalah memberikan pengaruh pada siswa. Pengaruh yang diberikan berupa pujian, ucapan, harapan, hukuman dan kebiasaan lainnya.

a.      Orang Tua

Orang tua adalah guru yang harusnya paling mengerti tentang anaknya atau dalah hal ini siswa. Pendidikan dimulai dari keluarga dan orang tualah yang menjadi guru utamanya. Untuk meningkatkan self-belief anak, orang tua terlebih dahulu membangun keterbukaan dengan anaknya. Keterbukaan ini akan memudahkan orang tua untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang membuat siswa tidak termotivasi dalam belajar atau bahkan tidak memiliki keyakinan akan kemampuannya sendiri. Orang tua bisa memulai dengan menyambut anak setelah pulang sekolah dengan bertanya “bagaimana perasaanmu selama disekolah hari ini? apakah belajarmu menyenangkan?” biarkan anak menjawab dan bercerita tentang apa yang ia rasakan tentang proses belajaranya. Orang tua juga memberikan pujian, menyemangati, dan harapan kedepan untuk anak bisa berprestasi. Apapun hasil yang dibawa oleh anak perbiasakan untuk tetap diberikan pujian, semangat, dan harapan sebagai dorongan positif. Dorongan ini akan membuat siswa termotivasi untuk mencoba lagi dan terus membenahi dirinya dengan menambah pengetahuannya agar mampu berprestasi. Selain dengan memberikan pujian dan hadiah, orang tua juga harus bisa memberikan hukuman kepada anak saat anak melakukan kesalahan yang berulang kali. Hal ini untuk memberikan suatu efek jerah dan menyadarkan anak bahwa sesuatu yang sudah tahu itu salah, tidak boleh dilakukan lagi. Hukuman yang diberikan tentunya bukan berkaitan dengan kekerasan namun lebih bersifat terdidik.

b.      Guru

Guru adalah sosok yang sangat dekat dengan bagaimana siswa membangun pengetahuannya. Guru bisa melakukan penguatan positif seperti halnya yang dilakukan oleh orang tua. Dorongan positif bisa dilakukan seperti berkata “kesalahanmu hanya ini saja” meskipun siswa banyak melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal guru tetap mengatakan seperti itu. Hal ini memberikan keyakinan kepada siswa bahwa sebenarnya ia mampu menyelesaikan masalah tersebut, buktinya hanya melakukan sedikit kesalahan. Dengan demikian, ia memiliki keyakinan atas dirinya bahwa sebenarnya ia mampu.

c.       Kepala Sekolah

Kepala sekolah juga sangat berperan dalam memotivasi siswa. Misalnya dengan memberikan hadiah atau ucapan selamat setiap memberikan amanat pada upacara bendera. Kepala sekolah menyebutkan siswa yang berprestasi untuk tampil ke depan. Selain itu, bercerita tentang beberapa siswa yang melakukan hal-hal kecil di sekolah namun akan berdampak besar kedepannya. Kepala sekolah juga mendukung adanya perlombaan yang diikuti oleh siswa.

 

SUMBER BACAAN

Bruning, Roger H., et.all. (2011). Cognitive Psychology and Instruction Fifth Edition. USA : Allyn & Bacon.

Rahman, Risqi. (2012). Hubungan antara Self-Concept terhadap Matematika dengan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa. Jurnal Infinity Vol.1 No.1 (19-30).

Retnowati, Endah. (2014). Psychology of Mathematics Learning: Constructing Knowledge. Tersedia di: http://staff.uny.ac.id/dosen/endah-retnowati-spd-med.

Syah, Muhibin. (2016). Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

No comments:

Post a Comment