Wednesday, November 14, 2018

Menggapai Kebebasan dalam Berpikir

Akal adalah suatu anugrah yang hanya dimiliki oleh manusia dalam dunia sebagai ciptaan. Jika ciptaan yang lain diberikan otak, maka manusia adalah ciptaan dengan struktur otak yang paling baik. Dengan struktur itulah manusia bisa berakal. Hal inilah yang menjadikan manusia spesial dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Menggapai akal adalah potensi manusia untuk berpikir.
Berpikir menjadikan manusia mampu mengubah diri sendiri ataupun lingkungannya. Harus diakui bahwa hampir seluruh perubahan adalah aktivitas dari berpikir. Tidak hanya itu, berpikir juga merupakan salah satu pembeda untuk tiap individu atau kelompok. Dengan demikian, berpikirpun dapat digunakan untuk membandingkan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Nilai kehidupan seseorang juga adalah pikirannya. Sehingga tidak heran bahwa adanya degradasi dan gradasi nilai kehidupan seseorang adalah buah dari membandingkan satu orang dengan orang lain dalam hal berpikir. Berpikir yang baik akan menaikan nilai kehidupan seseorang, sebaliknya berpikir yang buruk menurunkan nilai kehidupan.
Banyak sekali ragam cara orang mengekspresikan pikiran. Bisa melalui puisi, lagu, cerpen, film, drama, lukisan, dan banyak hal lainnya. Semua bentuk ekspresi tersebut memiliki nilai yang diakibatkan manusia yang berpikir. Jika ada puisi yang sangat bagus dan sarat akan nilai kehidupan, maka kita akan tahu bagaimana kemampuan berpikir sang penciptanya.
Sebuah karya baik seni maupun sastra adalah pikiran yang bermakna mendalam, yang ingin disampaikan sang pencipta kepada siapa saja yang menikmati karya tersebut. Namun demikian, setiap manusia memiliki pikirannya masing-masing. Dengan pikiran tersebut sebuah karya bisa memiliki banyak arti yang tidak persis dengan makna sesungguhnya dari penciptanya. Namun pada prinsipnya selalu tertuang nilai kehidupan yang mendalam dari setiap karya seni dan sastra.
Memikirkan makna dari suatu hal entah karya sastra, seni, fenomena, bahkan diri sendiri adalah bagian dari aktivitas berfilsafat. Agar benar menjadi utuh dalam aktivitas filsafat maka perlu ditambahkan menjelaskan. Maka sebenar-benarnya berfilsafat adalah kemampuan menjelaskan apa yang dipikirkan. Dengan demikian, sesungguhnya berfilsafat itu adalah saya, atau anda. Saat saya mampu menjelaskan apa yang saya pikirkan maka saya sedang berfilsafat. Demikian juga anda, saat anda dapat menjelaskan semua yang anda pikirkan, maka anda sedang berfilsafat.
Berangkat dari filsafat adalah saya, atau filsafat adalah anda, maka berapa banyak penjelasan terhadap suatu hal yang sama, yang bisa kita terima?. Banyak sekali. Dengan demikian, filsafat saya dan filsafat anda adalah berbeda. Jika kita tarik seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, bisa kita temukan berlimpahnya perbedaan tersebut.
Namun sebenarnya, saya dan anda dan siapapun dia manusia di dunia ini, tak sanggup menjelaskan pikirannya. Bahkan saya menjelaskan siapa sesungguhnya saya adalah suatu keniscayaan. Saya mungkin bisa mengatakan saya berkulit putih dan benar itu saya karena saya berkulit putih. Namun bagaimana dengan saya yang berkaca mata? Bagaimana dengan saya yang menggunakan baju hitam? Bagaimana dengan saya yang berambut lurus? Dan banyak lagi yang melekat pada saya yang tidak bisa saya sebutkan, bukankah itu juga saya?. Maka sebenarnya saya tak mampu menjelaskan siap saya sesungguhnya.  Jika saya menyatakan bahwa saya berkulit putih, maka saya tak bersifat adil terhadap saya yang berambut lurus, saya yang berkaca mata, dan saya yang banyak itu. Salah satu implikasi dari hal ini yaitu sesungguhnya ada banyak hal yang saya pikirkan dan ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Tetapi jemari ini tak sanggup menulis semua yang sudah saya pikirkan.
Keterbatasan berpikir dan menjelaskan menunjukkan bahwa objek filsafat adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Ada dan mungkin ada bisa berarti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bisa kita artikan semua yang ada merupakan semua yang bisa kita rasakan dengan panca indera. Dan bisa juga kita katakan bahwa semua yang ada adalah semua yang muncul dalam pikiran. Misalnya, saat ini saya tidak sedang melihat, memegang, ataupun merasa martabak. Tetapi martabak itu ada, karena saat ini sedang saya pikirkan. Semua yang mungkin ada adalah ada namun tidak kita pikirkan ataupun sedang tidak terdeteksi oleh panca indera.
Tentang objek filsafat, semua yang ada dan yang mungkin ada adalah tergantung ruang dan waktu. Semua yang mungkin ada berada pada ruang dan waktu yang berbeda  Dan bisa saya adakan dengan dengan cara mengisi pikiran saya dengan logos. Maka menggapi semua yang mungkin ada sejatinya adalah terus memperkaya diri dengan ilmu. Saat banyak yang mungkin ada bisa kita gapai, maka dimensi kita akan meningkat. Dimensi membawa kita untuk menapaki setiap tangga kehidupan. Dan setiap tangga kehidupan memberikan kita kuasa sesuai dengan dimensi.
Banyak cara untuk menaikan dimensi sesuai ruang dan waktunya. Seperti yang telah disinggung di atas yaitu dengan menambah pengetahuan. Hal ini bisa dilakukan dengan membaca, mengikuti dan mengamati penjelasan orang yang dimensinya melebih kita, nonton, dan hal lainnya. Permulaan pengetahuan adalah bertanya. Bertanya menunjukkan bahwa seseorang itu sedang berpikir dan ingin memahami. Bertanya juga menunjukkan bahwa sebenarnya ada yang tidak kita ketahui. Hal ini karena manusia memahami sesuatu setengah-setengah atau parsial, tidak utuh keseluruhan. Maka sebenar-benarnya menambah pengetahuan itu adalah tidak sombong. Karena banyak hal yang juga tidak diketahui. Menambah ilmu harusnya dengan cara menekan serendah mungkin keakuanku atau keegoanku. Karena hanya dengan bertanya, maka sebenarnya kita tidak tahu. Implikasi dari hal ini adalah bahwa semakin tinggi dimensi seseorang seharunyalah keakuannya atau keegoisannya harus semakin rendah.
Ujung dari tangga dimensi adalah spiritual. Maka sebenarnya diatas filsafat itu adalah spiritualitas. Kita bisa menuju ke sana dengan menapaki satu demi satu tangga dimensi sesuai ruang dan waktunya. Tetapi sesungguhnya, kita tidak akan pernah menyentuhnya. Mengapa? Karena kita adalah makhluk ciptaan. Bisa kita menyentuhnya, namun sesungguhnya bukanlah kehendak kita yang membawa kita ke sana, namun perkenanan Tuhan atau ridho Tuhan yang memberikan itu. Dengan demikian lebih jelas bahwa menggapai dimensi yang lebih tinggi mendekati spiritualitas, maka sebenarnya keakuan atau keegoisan kita semakin tertinggal pada dimensi paling bawah.
Menggapai spritiualitas tidak semata-mata hanya dengan pikiran, tetapi juga perasaan. Semakin mendekati spiritualitas, maka pikiran dan perasaan kita semakin beriringan atau selaras. Pikiran terus diisi dengan logos dan perasaan terus mengiring dengan doa agar logos yang kita kejar tidak mudah berubah menjadi mitos. Doa-doalah yang juga memberikan keyakinan bahwa kita mampu menapaki setiap tangga dimensi menuju spiritualitas. Dengan demikian menjadi orang dengan penuh logos namun bersifat sombong dan merasa paling tau adalah rugi dalam hidupnya. Karena logosnya telah berubah menjadi mitos.
Pada bagian sebelumnya saya telah menjelaskan juga bahwa sebenarnya filsafat adalah diriku sendiri. Hal ini bisa berarti sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Bahwa filsafat adalah diriku sendiri merupakan menggali setiap potensi dalam hidup untuk kemudian berubah. Dengan demikian dalam mencari logos dalam filsafat adalah proses berpikir kritis dan reflektif. Berpikir kritis tidak hanya berarti mengkritisi pemikiran orang lain, tetapi juga diri sendiri. Belajar filsafat haruslah berani dikritis, bahwa sebenarnya masih banyak hal yang tidak diketahui, atau bahkan diri sendiri memiliki perilaku yang buruk (bad behavior). Demikian selanjutnya diri sendiri bisa berefleksi bahwa perlu perubahan yang lebih baik untuk menggapai dimensi yang lebih tinggi menuju spiritualitas.
Semua yang tertulis di atas sebenarnya mau menunjukkan bagaimana berpikir itu begitu kuat adanya. Bahkan saya bisa menemukan sesuatu yang tidak ada dalam pikiran, sehingga semua yang tidak ada sebenarnya adalah mungkin ada. Filsafat menjujung tinggi manusia untuk berpikir tentang apa saja sesuai ruang dan waktunya. Sebab dengan terus berpikir dan bertanya akan menghasilkan logos yang banyak. Saya ataupun anda bebas berpikir tentang apa saja dalam memaknai hidup ini. Adanya kapitalisme, atheisme, dan kawan-kawannya adalah bukti bagaimana sang pencetusnya berpikir untuk memaknai hidupnya dan ingin mengatur lingkungannya.
Tetapi adanya kapitalisme, atheism, anarkisme, materialism dan kawan-kawannya menunjukkan kita bahwa kebebasan dalam berpikir itu ternyata menghasilkan logos yang tidak selamanya baik adanya. Mengapa? Fungsi dari logos adalah membawa kita pada tingkat dimensi paling tinggi sesuai ruang dan waktunya. Namun jika logos justru tidak membawa kita ke sana, maka sebenarnya logos itu telah menjadi mitos. Contohnya, matrealisme memandang bahwa hidup ini adalah tentang materi. Semua dihargai dengan uang. Dimensi paling tinggi dari materialisme menjadi tidak jelas. Apa dimensi paling tinggi dari materisme? Apakah memiliki banyak uang? Jika iya, lalu bagaimana materialisme menjelaskan tentang penyakit AIDS yang tidak bisa disembuhkan meskipun kita punya banyak uang untuk bisa membayar segala obat demi kesembuhan?. Sulit sekali materialisme menjelaskan hal ini. Materialisme tidak mampu memberikan nilai kehidupan yang hakekat.
Kita bisa berpikir tentang apa saja. Kita bisa berfilsafat tentang apa saja. Namun, logos yang kita dapatkan haruslah membawa kita pada dimensi yang lebih tinggi dan menuju spiritualitas. Dalam rana spiritualitas, hidup menjadi lebih bermakna. Dan hidup yang bermakna itulah tujuan dari filsafat.
Sebenar-benarnya kebebasan dalam berpikir adalah bebas memikirkan apa saja sesuai dengan koridor dimensi dalam ruang dan waktunya. Jangan sampai apa yang kita pikirkan justru mengguncang hati kita dan terjadilah disharmoni yang berakibat pada tak sejalannya pikiran dan hati. Muaranya adalah kita tak pernah menginjakkan kaki pada tangga dimensi yang lebih tinggi. Maka berpikirlah tentang semua yang ada dan yang mungkin ada. Namun kita tahu, bahwa tujuan dari semua itu adalah menggapai setinggi-tingginya anak tangga dimensi, dan membawa kita kepada dunia spiritual. Yang disana kita tak henti-hentinya bersyukur dan mengagungkan yang Kuasa.
Saya menuliskan ini sebagai refleksi dari perkuliahan Filsafat Ilmu bersama Prof. Dr. Marsigit, MA. Percayalah bahwa banyak hal yang saya pikirkan namun tak mampu jemari ini menuliskannya bagi para pembaca. Marilah terus memperkaya diri dengan ilmu, dan mengubah hidup kita menjadi lebih baik.
Terima kasih.
Falenthino Sampouw
18709251006
S2 Pendidikan Matematika UNY

No comments:

Post a Comment