Akal adalah suatu anugrah yang
hanya dimiliki oleh manusia dalam dunia sebagai ciptaan. Jika ciptaan yang lain
diberikan otak, maka manusia adalah ciptaan dengan struktur otak yang paling
baik. Dengan struktur itulah manusia bisa berakal. Hal inilah yang menjadikan manusia
spesial dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Menggapai akal adalah potensi
manusia untuk berpikir.
Berpikir menjadikan manusia
mampu mengubah diri sendiri ataupun lingkungannya. Harus diakui bahwa hampir
seluruh perubahan adalah aktivitas dari berpikir. Tidak hanya itu, berpikir
juga merupakan salah satu pembeda untuk tiap individu atau kelompok. Dengan
demikian, berpikirpun dapat digunakan untuk membandingkan manusia satu dengan
manusia yang lainnya. Nilai kehidupan seseorang juga adalah pikirannya. Sehingga
tidak heran bahwa adanya degradasi dan gradasi nilai kehidupan seseorang adalah
buah dari membandingkan satu orang dengan orang lain dalam hal berpikir. Berpikir
yang baik akan menaikan nilai kehidupan seseorang, sebaliknya berpikir yang
buruk menurunkan nilai kehidupan.
Banyak sekali ragam cara orang
mengekspresikan pikiran. Bisa melalui puisi, lagu, cerpen, film, drama,
lukisan, dan banyak hal lainnya. Semua bentuk ekspresi tersebut memiliki nilai yang
diakibatkan manusia yang berpikir. Jika ada puisi yang sangat bagus dan sarat
akan nilai kehidupan, maka kita akan tahu bagaimana kemampuan berpikir sang
penciptanya.
Sebuah karya baik seni maupun
sastra adalah pikiran yang bermakna mendalam, yang ingin disampaikan sang
pencipta kepada siapa saja yang menikmati karya tersebut. Namun demikian,
setiap manusia memiliki pikirannya masing-masing. Dengan pikiran tersebut sebuah
karya bisa memiliki banyak arti yang tidak persis dengan makna sesungguhnya
dari penciptanya. Namun pada prinsipnya selalu tertuang nilai kehidupan yang
mendalam dari setiap karya seni dan sastra.
Memikirkan makna dari suatu hal
entah karya sastra, seni, fenomena, bahkan diri sendiri adalah bagian dari
aktivitas berfilsafat. Agar benar menjadi utuh dalam aktivitas filsafat maka
perlu ditambahkan menjelaskan. Maka sebenar-benarnya berfilsafat adalah
kemampuan menjelaskan apa yang dipikirkan. Dengan demikian, sesungguhnya
berfilsafat itu adalah saya, atau anda. Saat saya mampu menjelaskan apa yang
saya pikirkan maka saya sedang berfilsafat. Demikian juga anda, saat anda dapat
menjelaskan semua yang anda pikirkan, maka anda sedang berfilsafat.
Berangkat dari filsafat adalah
saya, atau filsafat adalah anda, maka berapa banyak penjelasan terhadap suatu
hal yang sama, yang bisa kita terima?. Banyak sekali. Dengan demikian, filsafat
saya dan filsafat anda adalah berbeda. Jika kita tarik seluas-luasnya dan
sedalam-dalamnya, bisa kita temukan berlimpahnya perbedaan tersebut.
Namun sebenarnya, saya dan anda
dan siapapun dia manusia di dunia ini, tak sanggup menjelaskan pikirannya.
Bahkan saya menjelaskan siapa sesungguhnya saya adalah suatu keniscayaan. Saya mungkin
bisa mengatakan saya berkulit putih dan benar itu saya karena saya berkulit
putih. Namun bagaimana dengan saya yang berkaca mata? Bagaimana dengan saya
yang menggunakan baju hitam? Bagaimana dengan saya yang berambut lurus? Dan banyak
lagi yang melekat pada saya yang tidak bisa saya sebutkan, bukankah itu juga
saya?. Maka sebenarnya saya tak mampu menjelaskan siap saya sesungguhnya. Jika saya menyatakan bahwa saya berkulit
putih, maka saya tak bersifat adil terhadap saya yang berambut lurus, saya yang
berkaca mata, dan saya yang banyak itu. Salah satu implikasi dari hal ini yaitu
sesungguhnya ada banyak hal yang saya pikirkan dan ingin saya sampaikan melalui
tulisan ini. Tetapi jemari ini tak sanggup menulis semua yang sudah saya
pikirkan.
Keterbatasan berpikir dan menjelaskan
menunjukkan bahwa objek filsafat adalah semua yang ada dan yang mungkin ada.
Ada dan mungkin ada bisa berarti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bisa kita
artikan semua yang ada merupakan semua yang bisa kita rasakan dengan panca
indera. Dan bisa juga kita katakan bahwa semua yang ada adalah semua yang
muncul dalam pikiran. Misalnya, saat ini saya tidak sedang melihat, memegang,
ataupun merasa martabak. Tetapi martabak itu ada, karena saat ini sedang saya
pikirkan. Semua yang mungkin ada adalah ada namun tidak kita pikirkan ataupun
sedang tidak terdeteksi oleh panca indera.
Tentang objek filsafat, semua
yang ada dan yang mungkin ada adalah tergantung ruang dan waktu. Semua yang
mungkin ada berada pada ruang dan waktu yang berbeda Dan bisa saya adakan dengan dengan cara
mengisi pikiran saya dengan logos. Maka menggapi semua yang mungkin ada
sejatinya adalah terus memperkaya diri dengan ilmu. Saat banyak yang mungkin
ada bisa kita gapai, maka dimensi kita akan meningkat. Dimensi membawa kita untuk
menapaki setiap tangga kehidupan. Dan setiap tangga kehidupan memberikan kita
kuasa sesuai dengan dimensi.
Banyak cara untuk menaikan
dimensi sesuai ruang dan waktunya. Seperti yang telah disinggung di atas yaitu
dengan menambah pengetahuan. Hal ini bisa dilakukan dengan membaca, mengikuti
dan mengamati penjelasan orang yang dimensinya melebih kita, nonton, dan hal
lainnya. Permulaan pengetahuan adalah bertanya. Bertanya menunjukkan bahwa
seseorang itu sedang berpikir dan ingin memahami. Bertanya juga menunjukkan
bahwa sebenarnya ada yang tidak kita ketahui. Hal ini karena manusia memahami
sesuatu setengah-setengah atau parsial, tidak utuh keseluruhan. Maka
sebenar-benarnya menambah pengetahuan itu adalah tidak sombong. Karena banyak
hal yang juga tidak diketahui. Menambah ilmu harusnya dengan cara menekan
serendah mungkin keakuanku atau keegoanku. Karena hanya dengan bertanya, maka
sebenarnya kita tidak tahu. Implikasi dari hal ini adalah bahwa semakin tinggi
dimensi seseorang seharunyalah keakuannya atau keegoisannya harus semakin
rendah.
Ujung dari tangga dimensi
adalah spiritual. Maka sebenarnya diatas filsafat itu adalah spiritualitas. Kita
bisa menuju ke sana dengan menapaki satu demi satu tangga dimensi sesuai ruang
dan waktunya. Tetapi sesungguhnya, kita tidak akan pernah menyentuhnya.
Mengapa? Karena kita adalah makhluk ciptaan. Bisa kita menyentuhnya, namun
sesungguhnya bukanlah kehendak kita yang membawa kita ke sana, namun perkenanan
Tuhan atau ridho Tuhan yang memberikan itu. Dengan demikian lebih jelas bahwa
menggapai dimensi yang lebih tinggi mendekati spiritualitas, maka sebenarnya keakuan
atau keegoisan kita semakin tertinggal pada dimensi paling bawah.
Menggapai spritiualitas tidak
semata-mata hanya dengan pikiran, tetapi juga perasaan. Semakin mendekati
spiritualitas, maka pikiran dan perasaan kita semakin beriringan atau selaras.
Pikiran terus diisi dengan logos dan perasaan terus mengiring dengan doa agar
logos yang kita kejar tidak mudah berubah menjadi mitos. Doa-doalah yang juga
memberikan keyakinan bahwa kita mampu menapaki setiap tangga dimensi menuju
spiritualitas. Dengan demikian menjadi orang dengan penuh logos namun bersifat
sombong dan merasa paling tau adalah rugi dalam hidupnya. Karena logosnya telah
berubah menjadi mitos.
Pada bagian sebelumnya saya
telah menjelaskan juga bahwa sebenarnya filsafat adalah diriku sendiri. Hal ini
bisa berarti sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Bahwa filsafat adalah diriku
sendiri merupakan menggali setiap potensi dalam hidup untuk kemudian berubah. Dengan
demikian dalam mencari logos dalam filsafat adalah proses berpikir kritis dan
reflektif. Berpikir kritis tidak hanya berarti mengkritisi pemikiran orang
lain, tetapi juga diri sendiri. Belajar filsafat haruslah berani dikritis,
bahwa sebenarnya masih banyak hal yang tidak diketahui, atau bahkan diri
sendiri memiliki perilaku yang buruk (bad behavior). Demikian selanjutnya diri
sendiri bisa berefleksi bahwa perlu perubahan yang lebih baik untuk menggapai
dimensi yang lebih tinggi menuju spiritualitas.
Semua yang tertulis di atas
sebenarnya mau menunjukkan bagaimana berpikir itu begitu kuat adanya. Bahkan
saya bisa menemukan sesuatu yang tidak ada dalam pikiran, sehingga semua yang
tidak ada sebenarnya adalah mungkin ada. Filsafat menjujung tinggi manusia untuk
berpikir tentang apa saja sesuai ruang dan waktunya. Sebab dengan terus berpikir
dan bertanya akan menghasilkan logos yang banyak. Saya ataupun anda bebas
berpikir tentang apa saja dalam memaknai hidup ini. Adanya kapitalisme, atheisme,
dan kawan-kawannya adalah bukti bagaimana sang pencetusnya berpikir untuk
memaknai hidupnya dan ingin mengatur lingkungannya.
Tetapi adanya kapitalisme, atheism,
anarkisme, materialism dan kawan-kawannya menunjukkan kita bahwa kebebasan
dalam berpikir itu ternyata menghasilkan logos yang tidak selamanya baik
adanya. Mengapa? Fungsi dari logos adalah membawa kita pada tingkat dimensi
paling tinggi sesuai ruang dan waktunya. Namun jika logos justru tidak membawa
kita ke sana, maka sebenarnya logos itu telah menjadi mitos. Contohnya,
matrealisme memandang bahwa hidup ini adalah tentang materi. Semua dihargai
dengan uang. Dimensi paling tinggi dari materialisme menjadi tidak jelas. Apa
dimensi paling tinggi dari materisme? Apakah memiliki banyak uang? Jika iya,
lalu bagaimana materialisme menjelaskan tentang penyakit AIDS yang tidak bisa
disembuhkan meskipun kita punya banyak uang untuk bisa membayar segala obat
demi kesembuhan?. Sulit sekali materialisme menjelaskan hal ini. Materialisme
tidak mampu memberikan nilai kehidupan yang hakekat.
Kita bisa berpikir tentang apa
saja. Kita bisa berfilsafat tentang apa saja. Namun, logos yang kita dapatkan
haruslah membawa kita pada dimensi yang lebih tinggi dan menuju spiritualitas. Dalam
rana spiritualitas, hidup menjadi lebih bermakna. Dan hidup yang bermakna
itulah tujuan dari filsafat.
Sebenar-benarnya kebebasan
dalam berpikir adalah bebas memikirkan apa saja sesuai dengan koridor dimensi
dalam ruang dan waktunya. Jangan sampai apa yang kita pikirkan justru
mengguncang hati kita dan terjadilah disharmoni yang berakibat pada tak
sejalannya pikiran dan hati. Muaranya adalah kita tak pernah menginjakkan kaki
pada tangga dimensi yang lebih tinggi. Maka berpikirlah tentang semua yang ada
dan yang mungkin ada. Namun kita tahu, bahwa tujuan dari semua itu adalah
menggapai setinggi-tingginya anak tangga dimensi, dan membawa kita kepada dunia
spiritual. Yang disana kita tak henti-hentinya bersyukur dan mengagungkan yang
Kuasa.
Saya menuliskan
ini sebagai refleksi dari perkuliahan Filsafat Ilmu bersama Prof. Dr. Marsigit,
MA. Percayalah bahwa banyak hal yang saya pikirkan namun tak mampu jemari ini
menuliskannya bagi para pembaca. Marilah terus memperkaya diri dengan ilmu, dan
mengubah hidup kita menjadi lebih baik.
Terima
kasih.
Falenthino Sampouw
18709251006
S2 Pendidikan Matematika UNY
No comments:
Post a Comment