1. Apa
itu Grounded Theory (GT)?
Penelitian GT dikembangkan pertama kali oleh dua
sosiolog, Barney Glaser dan Anselm Strauss melalui buku mereka yaitu The Discovery of Grounded Theory pada
tahun 1967.. Glaser adalah seorang sosiolog dan sekaligus dosen di Colombia University dan University of California School of Nursing.
Sedangkan Strauss merupakan sosiolog yang berprofesi sebagai Direktur Scocial Science Research, Institute for
Psychiatric and Psychosomatic. Munculnya GT Glaser dan Strauss berpendapat bahwa peneliti membutuhkan sebuah
metode yang membuat mereka bergerak dari data ke teori, jadi akan muncul sebuah
teori baru. Awalnya penggunaan GT hanya
untuk penelitian sosiologi, namun pada tahun 1978, Glaser memperluas penerapan GT untuk pedoman disertasi pada ilmu
politik, kesejahteraan sosial, pendidikan, pendidikan kesehatan, bisnis dan
administrasi, kesehatan masyarakat,, sosiologi pendidikan, keperawatan,
perencanaan kota dan perencanaan wilayah, serta antropologi.
Dalam perjalanannya
Glaser dan Strauss berbeda pandangan terkait dengan pelaksanaan GT. Pada tahun 1992, Glaser menerbitkan
buku tentang Emergence vs Forcing: Basics
of Grounded Theory Analysis untuk merespon buku yang diterbitkan Strauss
dan Corbin tentang Basis of Qualitative
Research: Grounded Theory Procedures and Techniques pada tahun 1990. Namun
pada saat ini banyak sumber yang menggunakan GT sebagaimana yang diutarakan oleh Strauss dan Corbin, salah
satunya penulis terkenal penelitian kualitatif, Creswell.
GT
adalah
sebuah metodologi yang mencoba untuk mengkonstruksi isu-isu penting dalam
kehidupan masyarakat (Glaser & Strauss, 1967; Strauss & Corbin, 1998).
Martin dan Turner (1986) mengartikan GT
sebagai metodologi penemuan teori secara induktif yang memperkenankan peneliti
untuk mengembangkan laporan teoritis ciri-ciri umum suatu topik secara simultan
di lapangan dari catatan observasi empirik sebuah data. Charmaz (2006) mengartikan
GT sebagai metode penelitian yang
menjelaskan petunjuk-petunjuk sistematis untuk pengumpulan dan analisis data
dengan tujuan membangun kerangka yang dapat menjelaskan data yang terkumpul.
Dari tiga pendapat ini, dapat kita identifikasi bahwa hasil dari GT adalah sebuah teori berupa kerangka umum
yang mampu menjelaskan data yang ditemukan secara empiris. Teori ini dibangun
atas dasar hasil penelitian yang bersifat khusus dari partisipan. Sehingga, GT bersifat induktif.
GT
merupakan
metodologi umum analisis terkait dengan pengumpulan data sistematis yang
diterapkan dan menggunakan serangkaian metode untuk menghasilkan sebuah teori
induktif tentang area substantif (Martin & Turner, 1986). Pernyataan ini
menunjukkan bahwa GT berbeda dengan
penelitian kuantitatif. Riset kuantitatif pada umumnya berawal dari teori
konseptual menuju pada kajian empiris. Sementara GT berangkat dari kajian empirs menuju pada teori konseptual
(Budiasih, 2014).
Dalam penelitian GT, peneliti tidak membawa ide-ide
sebagai pertimbangan sebelumnya untuk membuktikan ide tersebut. Namun, peneliti
benar-benar menemukan teori dari hasil yang diberikan oleh partisipan
penelitian. Haig (1995) berpendapat bahwa GT
dikatakan baik jika: secara induktif diperoleh dari data empirik, dielaborasi
secara teoritis, dan diputuskan berdasarkan
domain dari sejumlah kritieria evaluasi.
2. Apa
karakteristik GT?
Adapun karakteristik
dari GT yaitu (Budiasih, 2014);
- Fokus reset diarahkan pada proses yang berhubungan dengan sebuah topik substantive.
- Penjaringan data (yang dilakukan secara simultan dengan analisis data) dilakukan dengan menggunakan penyampelan teoritis.
- Analisis data dilakukan sambil melaksanakan perbandingan konstan dan membuat pertanyaan tentang data-data yang diperoleh.
- Sewaktu menganalisis data untuk memunculkan kategori-kategori, sebuah kategori inti diidentifikasi.
- Kategori inti yang diidentifikasi kemudian dikembangkan dan dirumuskan menjadi teori.
- Selama melakukan riset, peneliti membuat catatan (memo) untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori yang dikodekan.
Sementara
ciri-ciri GT menurut Creswell (2013):
- Peneliti memfokuskan pada proses atau aksi yang memiliki tahapan atau fase khas yang terjadi sepanjang waktu. Maka dari itu, GT meneliti “gerakan” atau aksi yang berusaha dijelaskan oleh peneliti. Misalnya: Proses yang “mengembangkan program pendidikan umum” atau proses yang “mendukung staf pengajar (dosen) untuk menjadi para peneliti yang baik"
- Peneliti kemudian berusaha untuk mengembangkan teori tentang proses ayau aksi ini. ada banyak definisi tentang teori yang terdapat dalam literature, tetapi secara umu teori adalah suatu penjelasan tentang sesuatu atau pemahaman yang dikembangkan oleh peneliti. Penjelasan atau pemahaman ini menyatu dalam GT , kategori teoritis yang dirangkai untuk memperlihatkan bagaimana mereka bekerja. Contohnya, teori tentang dukungan bagi staf pengajar (dosen) dapat memperlihatkan bagaimana star pengajar didukung sepanjang waktu, oleh sumber daya yang spesifik, oleh aksi yang spesifik, yang dilakukan oleh individu, dengan hasil individual yang meningkatkan kemampuan riset dari seorang anggota star pengajar.
- Memoing menjadi bagian dari pengembangan teori ketika peneliti menuliskan ide berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis. Dalam memo ini, ide tersebut berusaha untuk merumuskan proses yang sedang dilihat oleh peneliti dan untuk menggambar aliran dari proses ini.
- Bentuk utama dari pengumpulan data sering kali adalah wawancara yang penelitinya secara konstan membandingkan data yang dikumpulkan dari para partisipan dengan ide tentang teori baru. Prosesnya adalah pergi bolak-balik diantara para parisipan, mengumpulkan wawancara baru, dan kemudian kembali pada teori baru tersebut untuk mengisi kesenjangan dan untuk menjabarkan bagaimana prosesnya bekerja.Analisis data dapat distrukturkan dan mengikuti pola pengembangan kategori terbuka, memilih satu kategori untuk menjadi fokus dari teori tersebut, dan kemudian memperinci kategori tambahan (coding axial) untuk membentuk model teoritis. Perpotongan dari kategori tersebut menjadi teori (coding selective). Teori ini dapat disajikan sebagai diagram, sebagai proposisi (hipotesis), atau sebagai pembahasan (Strauss & Corbin, 1998). Analisis data dapat saja tidak terstruktur dan didasarkan pada pengambangan teori dengan menyusun makna implisit dari kategori.
3. Bagaimana
prosedur atau tahapan GT?
Tahapan
dalam GT yaitu (adopsi dari Budiassih, 2014);
Perumusan Masalah
Perumusan
masalah dalam riset GT disusun secara bertahap. Rumusan masalah pada tahap awal
sebelum dilakukan pengumpulan data adalah bersifat lebih luas atau umum dengan
maksudrumusan masalah tersebut digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan
pengumpulan data. Setelah data yang bersifat umum telah dikumpulkna, kemudian
rumusan masalahnya semakin dipersempit dan lebih berfokus pada sifat data yang
dikumpulkan dengan maksud sebagai pedoman dalam menyusun teori.
Pertanyaan
penelitian pada awalnya bisa berupa “Bagaimana hal itu terungkap?” atau “Apa
prosesnya?”. Setelah peneliti bertemu dengan partisipan, peneliti akan
mengajukan pertanyaan yang lebih detail seperti “Apakah yang pokok pada proses
tersebut?” apakah yang memengaruhi atau menyebabkan fenomenan ini terjadi?”,
“Apa sajakah strategi yang digunakan selama prose tersebut?” atau “Apa efek
yang terjadi?” dan lain-lain.
Ciri-ciri
dari rumusan masalah dalam riset GT adalah: 1) berorientasi pada
pengidentifikasian fenomena yang diteliti, 2)berorientasi pada proses dan
tindakan, dan 3) mengungkapkan secara tegas mengenai objek yang akan akan
diteliti.
Penggunaan kajian teoritis
Pada
prinsipnya GT tidak berangkat dari teori-teori sebelumnya. Peneliti turun ke
lapangan benar-benar tidak membawa hasil kajian teorinya. Namun peneliti perlu
mendifinisikan variabel-variabel yang mungkin saja muncul pada saat penelitian.
Selain tiu, apabila pada saat peneliti merumuskan masalah maupun menyusun
materi wawancara dalam membangun kerangka berpikir menghadapi suatu kesulitan,
maka untuk sementara si peneliti dapat meminjam konsep yang digunakan oleh
teori-teori sebelumnya sampai ditemukannya konsep yang sebenarnya.
Pengumpulan data dan penyampelan
Dalam penelitian
kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian. Hal ini tentu
berlaku untuk GT. Pengumpulan data diarahkan oleh sampling teoritis (Theoritical Sampling), Penyampelan
teoritis adalah proses pengumpulan data untuk menenmukan suatu teori. Dimana
peneliti mengumpulkan, mengkodekan, dan menganalisis data lalu menentukan data
apa yang harus dikumpulkan selanjutnya serta dimana data bisa ditemukan.
“Theoretical Sampling is the process of data collection for generating theory,
whereby the analyst jointly collect, codes, and analyzes his data, and decides
what data to collect next, and where to find them. In order to develop his
theory as it emerges.” (Glaser dan Strauss, 1967;45).
Data dikumpulkan
melalui wawancara, observasi, dokumnetasi, dan semua hal yang bisa mendukung
dalam menemukan konsep yang ingin dicari. Aktivitas pengumpulan data di
lapangan berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu cukup lama, dimana
proses pengambilan sampelnya juga berlangsung secara terus-menerus. Hal ini
untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi agar sepenuhnya mengembanngkan
(atau menjenuhkan) modelnya. Hal ini dapat melibatkan 20 hingga 60 wawancara.
Analisis
Data
Analisis data merupakan
upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil pengumupulan data dan
menyajikannya sebagai sebuah temuan. Analisis data berlangsung secara bertahap.
Prosesnya diawali dengan pengkodean (coding)
yang terdiri dari open coding, axial coding, dan selective coding.
·
Open
coding
Peneliti
melakukan identifikasi, penamaan, kategorisasi dan penguraian gejala yang
ditemukan dalam teks hasil dari wawancara, observasi, dan catatan harian
peneliti.
·
Axial
coding
Peneliti
menghubungkan berbagai kategori riset dalam bentuk susunan bangunan atau
sifat-sifat yang dilakukan dengan menghubungkan kode-kode, dan merupakan
kombinasi cara berpikir induktif dan deduktif.
·
Selective
coding
Memilih
kategorisasi ini dan menghubungkan kategori kategori lain pada kategori inti.
Pada proses coding ini diadakan
aktivitas gagasan kaku, namun terus berubah dan bekembang atau direvisi
sepanjang proses riset berlangsung.
Tujuan dilakukannya
pengodean adalah memperoleh ketepatan dalam proses riset, menyusun suatu teori, membantu mengatasi terjadinya
bias dan asumsi yang keliru, memberikan suatu landasan dan kepadatan makna,
serta mengembangkan kepekaan dalam mengasilkan teori baru.
Komponen yang juga
penting dalam menyusun data adalah Theoritical
Memos. Dalam pengumpulan data analisis, peneliti harus menyusun
catatan-catatan terhadap teori yang telah ditemukan melalui pengkodean. Catatan
ini berisikan hubungan-hubungan dari kategori yang telah dibuat. Theoritical Memos ini akan terus
berkembang hingga data menjadi jenuh.
Dalam dalam analisis
penelitian GT, peneliti sebenarnya sedang “berinteraksi” dengan data. Sehingga,
peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengacu pada data yang diperoleh. Hal
ini untuk mengelaborasi data tersebut. Elaborasi dimaksudkan agar peneliti bisa
menghubungkan kategori dan mengembangkan lebih jauh temuannya. Hal ini disebut
sebagai Theoritical Sensitivity.
Penyimpulan
atau penulisan laporan
Tahap pengambilan
simpulan pada riset kualitiati dengan menggunakan metode GT tidak didasarkan
pada generalisasi tapi lebih ke spesifikasinya. GT dimaksudkan untuk membuat
sepesifikasi-spesifikasi terhadap:
-
Kondisi yang menjadi sebab terjadinya
suatu fenomena
-
Tindakan atau interaksi yang merupakan
respon terhadap kondisi tersebut
-
Konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari
tindakan atau interaksi tersebut.
Rumusan teoritis adalah hasil akhir dari riset kualitatif dengan metode GT. Tidak menjustifikasi keberlakuannya terhadap semua populasi namun hanya digunakan untuk situasi atau kondisi tersebut saja.
Rumusan teoritis adalah hasil akhir dari riset kualitatif dengan metode GT. Tidak menjustifikasi keberlakuannya terhadap semua populasi namun hanya digunakan untuk situasi atau kondisi tersebut saja.
No comments:
Post a Comment