Monday, October 29, 2018

GROUNDED THEORY : Review for some Questions



1.      Apa itu Grounded Theory (GT)?
Penelitian GT dikembangkan pertama kali oleh dua sosiolog, Barney Glaser dan Anselm Strauss melalui buku mereka yaitu The Discovery of Grounded Theory pada tahun 1967.. Glaser adalah seorang sosiolog dan sekaligus dosen di Colombia University dan University of California School of Nursing. Sedangkan Strauss merupakan sosiolog yang berprofesi sebagai Direktur Scocial Science Research, Institute for Psychiatric and Psychosomatic. Munculnya GT Glaser dan Strauss berpendapat bahwa peneliti membutuhkan sebuah metode yang membuat mereka bergerak dari data ke teori, jadi akan muncul sebuah teori baru. Awalnya penggunaan GT hanya untuk penelitian sosiologi, namun pada tahun 1978, Glaser memperluas penerapan GT untuk pedoman disertasi pada ilmu politik, kesejahteraan sosial, pendidikan, pendidikan kesehatan, bisnis dan administrasi, kesehatan masyarakat,, sosiologi pendidikan, keperawatan, perencanaan kota dan perencanaan wilayah, serta antropologi.
Dalam perjalanannya Glaser dan Strauss berbeda pandangan terkait dengan pelaksanaan GT. Pada tahun 1992, Glaser menerbitkan buku tentang Emergence vs Forcing: Basics of Grounded Theory Analysis untuk merespon buku yang diterbitkan Strauss dan Corbin tentang Basis of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques pada tahun 1990. Namun pada saat ini banyak sumber yang menggunakan GT sebagaimana yang diutarakan oleh Strauss dan Corbin, salah satunya penulis terkenal penelitian kualitatif, Creswell.
GT adalah sebuah metodologi yang mencoba untuk mengkonstruksi isu-isu penting dalam kehidupan masyarakat (Glaser & Strauss, 1967; Strauss & Corbin, 1998). Martin dan Turner (1986) mengartikan GT sebagai metodologi penemuan teori secara induktif yang memperkenankan peneliti untuk mengembangkan laporan teoritis ciri-ciri umum suatu topik secara simultan di lapangan dari catatan observasi empirik sebuah data. Charmaz (2006) mengartikan GT sebagai metode penelitian yang menjelaskan petunjuk-petunjuk sistematis untuk pengumpulan dan analisis data dengan tujuan membangun kerangka yang dapat menjelaskan data yang terkumpul. Dari tiga pendapat ini, dapat kita identifikasi bahwa hasil dari GT adalah sebuah teori berupa kerangka umum yang mampu menjelaskan data yang ditemukan secara empiris. Teori ini dibangun atas dasar hasil penelitian yang bersifat khusus dari partisipan. Sehingga, GT bersifat induktif.
GT merupakan metodologi umum analisis terkait dengan pengumpulan data sistematis yang diterapkan dan menggunakan serangkaian metode untuk menghasilkan sebuah teori induktif tentang area substantif (Martin & Turner, 1986). Pernyataan ini menunjukkan bahwa GT berbeda dengan penelitian kuantitatif. Riset kuantitatif pada umumnya berawal dari teori konseptual menuju pada kajian empiris. Sementara GT berangkat dari kajian empirs menuju pada teori konseptual (Budiasih, 2014).
Dalam penelitian GT, peneliti tidak membawa ide-ide sebagai pertimbangan sebelumnya untuk membuktikan ide tersebut. Namun, peneliti benar-benar menemukan teori dari hasil yang diberikan oleh partisipan penelitian. Haig (1995) berpendapat bahwa GT dikatakan baik jika: secara induktif diperoleh dari data empirik, dielaborasi secara teoritis, dan diputuskan berdasarkan  domain dari sejumlah kritieria evaluasi.

2.      Apa karakteristik GT?
       Adapun karakteristik dari GT yaitu (Budiasih, 2014);
  • Fokus reset diarahkan pada proses yang berhubungan dengan sebuah topik substantive.
  • Penjaringan data (yang dilakukan secara simultan dengan analisis data) dilakukan dengan menggunakan penyampelan teoritis.
  • Analisis data dilakukan sambil melaksanakan perbandingan konstan dan membuat pertanyaan tentang data-data yang diperoleh.
  • Sewaktu menganalisis data untuk memunculkan kategori-kategori, sebuah kategori inti diidentifikasi.
  • Kategori inti yang diidentifikasi kemudian dikembangkan dan dirumuskan menjadi teori.
  • Selama melakukan riset, peneliti membuat catatan (memo) untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori yang dikodekan.
Sementara ciri-ciri GT menurut Creswell (2013):
  • Peneliti memfokuskan pada proses atau aksi yang memiliki tahapan atau fase khas yang terjadi sepanjang waktu. Maka dari itu, GT meneliti “gerakan” atau aksi yang berusaha dijelaskan oleh peneliti. Misalnya: Proses yang “mengembangkan program pendidikan umum” atau proses yang “mendukung staf pengajar (dosen) untuk menjadi para peneliti yang baik"
  • Peneliti kemudian berusaha untuk mengembangkan teori tentang proses ayau aksi ini. ada banyak definisi tentang teori yang terdapat dalam literature, tetapi secara umu teori adalah suatu penjelasan tentang sesuatu atau pemahaman yang dikembangkan oleh peneliti. Penjelasan atau pemahaman ini menyatu dalam GT , kategori teoritis yang dirangkai untuk memperlihatkan bagaimana mereka bekerja. Contohnya, teori tentang dukungan bagi staf pengajar (dosen) dapat memperlihatkan bagaimana star pengajar didukung sepanjang waktu, oleh sumber daya yang spesifik, oleh aksi yang spesifik, yang dilakukan oleh individu, dengan hasil individual yang meningkatkan kemampuan riset dari seorang anggota star pengajar.
  • Memoing menjadi bagian dari pengembangan teori ketika peneliti menuliskan ide berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis. Dalam memo ini, ide tersebut berusaha untuk merumuskan proses yang sedang dilihat oleh peneliti dan untuk menggambar aliran dari proses ini.
  • Bentuk utama dari pengumpulan data sering kali adalah wawancara yang penelitinya secara konstan membandingkan data yang dikumpulkan dari para partisipan dengan ide tentang teori baru. Prosesnya adalah pergi bolak-balik diantara para parisipan, mengumpulkan wawancara baru, dan kemudian kembali pada teori baru tersebut untuk mengisi kesenjangan dan untuk menjabarkan bagaimana prosesnya bekerja.Analisis data dapat distrukturkan dan mengikuti pola pengembangan kategori terbuka, memilih satu kategori untuk menjadi fokus dari teori tersebut, dan kemudian memperinci kategori tambahan (coding axial) untuk membentuk model teoritis. Perpotongan dari kategori tersebut menjadi teori (coding selective). Teori ini dapat disajikan sebagai diagram, sebagai proposisi (hipotesis), atau sebagai pembahasan (Strauss & Corbin, 1998). Analisis data dapat saja tidak terstruktur dan didasarkan pada pengambangan teori dengan menyusun makna implisit dari kategori.


3.      Bagaimana prosedur atau tahapan GT?
Tahapan dalam GT yaitu (adopsi dari Budiassih, 2014);
Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam riset GT disusun secara bertahap. Rumusan masalah pada tahap awal sebelum dilakukan pengumpulan data adalah bersifat lebih luas atau umum dengan maksudrumusan masalah tersebut digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan pengumpulan data. Setelah data yang bersifat umum telah dikumpulkna, kemudian rumusan masalahnya semakin dipersempit dan lebih berfokus pada sifat data yang dikumpulkan dengan maksud sebagai pedoman dalam menyusun teori.
Pertanyaan penelitian pada awalnya bisa berupa “Bagaimana hal itu terungkap?” atau “Apa prosesnya?”. Setelah peneliti bertemu dengan partisipan, peneliti akan mengajukan pertanyaan yang lebih detail seperti “Apakah yang pokok pada proses tersebut?” apakah yang memengaruhi atau menyebabkan fenomenan ini terjadi?”, “Apa sajakah strategi yang digunakan selama prose tersebut?” atau “Apa efek yang terjadi?” dan lain-lain.
Ciri-ciri dari rumusan masalah dalam riset GT adalah: 1) berorientasi pada pengidentifikasian fenomena yang diteliti, 2)berorientasi pada proses dan tindakan, dan 3) mengungkapkan secara tegas mengenai objek yang akan akan diteliti.
Penggunaan kajian teoritis
Pada prinsipnya GT tidak berangkat dari teori-teori sebelumnya. Peneliti turun ke lapangan benar-benar tidak membawa hasil kajian teorinya. Namun peneliti perlu mendifinisikan variabel-variabel yang mungkin saja muncul pada saat penelitian. Selain tiu, apabila pada saat peneliti merumuskan masalah maupun menyusun materi wawancara dalam membangun kerangka berpikir menghadapi suatu kesulitan, maka untuk sementara si peneliti dapat meminjam konsep yang digunakan oleh teori-teori sebelumnya sampai ditemukannya konsep yang sebenarnya.
Pengumpulan data dan penyampelan
Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian. Hal ini tentu berlaku untuk GT. Pengumpulan data diarahkan oleh sampling teoritis (Theoritical Sampling), Penyampelan teoritis adalah proses pengumpulan data untuk menenmukan suatu teori. Dimana peneliti mengumpulkan, mengkodekan, dan menganalisis data lalu menentukan data apa yang harus dikumpulkan selanjutnya serta dimana data bisa ditemukan. “Theoretical Sampling is the process of data collection for generating theory, whereby the analyst jointly collect, codes, and analyzes his data, and decides what data to collect next, and where to find them. In order to develop his theory as it emerges.” (Glaser dan Strauss, 1967;45).
Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dokumnetasi, dan semua hal yang bisa mendukung dalam menemukan konsep yang ingin dicari. Aktivitas pengumpulan data di lapangan berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu cukup lama, dimana proses pengambilan sampelnya juga berlangsung secara terus-menerus. Hal ini untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi agar sepenuhnya mengembanngkan (atau menjenuhkan) modelnya. Hal ini dapat melibatkan 20 hingga 60 wawancara.
Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil pengumupulan data dan menyajikannya sebagai sebuah temuan. Analisis data berlangsung secara bertahap. Prosesnya diawali dengan pengkodean (coding) yang terdiri dari open coding, axial coding, dan selective coding.
·         Open coding
Peneliti melakukan identifikasi, penamaan, kategorisasi dan penguraian gejala yang ditemukan dalam teks hasil dari wawancara, observasi, dan catatan harian peneliti.
·         Axial coding
Peneliti menghubungkan berbagai kategori riset dalam bentuk susunan bangunan atau sifat-sifat yang dilakukan dengan menghubungkan kode-kode, dan merupakan kombinasi cara berpikir induktif dan deduktif.
·         Selective coding
Memilih kategorisasi ini dan menghubungkan kategori kategori lain pada kategori inti. Pada proses coding ini diadakan aktivitas gagasan kaku, namun terus berubah dan bekembang atau direvisi sepanjang proses riset berlangsung.
Tujuan dilakukannya pengodean adalah memperoleh ketepatan dalam proses riset, menyusun  suatu teori, membantu mengatasi terjadinya bias dan asumsi yang keliru, memberikan suatu landasan dan kepadatan makna, serta mengembangkan kepekaan dalam mengasilkan teori baru.
Komponen yang juga penting dalam menyusun data adalah Theoritical Memos. Dalam pengumpulan data analisis, peneliti harus menyusun catatan-catatan terhadap teori yang telah ditemukan melalui pengkodean. Catatan ini berisikan hubungan-hubungan dari kategori yang telah dibuat. Theoritical Memos ini akan terus berkembang hingga data menjadi jenuh.
Dalam dalam analisis penelitian GT, peneliti sebenarnya sedang “berinteraksi” dengan data. Sehingga, peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengacu pada data yang diperoleh. Hal ini untuk mengelaborasi data tersebut. Elaborasi dimaksudkan agar peneliti bisa menghubungkan kategori dan mengembangkan lebih jauh temuannya. Hal ini disebut sebagai Theoritical Sensitivity.
Penyimpulan atau penulisan laporan
Tahap pengambilan simpulan pada riset kualitiati dengan menggunakan metode GT tidak didasarkan pada generalisasi tapi lebih ke spesifikasinya. GT dimaksudkan untuk membuat sepesifikasi-spesifikasi terhadap:
-          Kondisi yang menjadi sebab terjadinya suatu fenomena
-          Tindakan atau interaksi yang merupakan respon terhadap kondisi tersebut
-          Konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari tindakan atau interaksi tersebut.
Rumusan teoritis adalah hasil akhir dari riset kualitatif dengan metode GT. Tidak menjustifikasi keberlakuannya terhadap semua populasi namun hanya digunakan untuk situasi atau kondisi tersebut saja.

No comments:

Post a Comment